Makalah Sejarah Pendidikan Islam pada Masa Dinasti Bani Umayyah 1



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selama kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT.
Pendidikan Islam pada hakikatnya mengalami periodesasi sejarah yang panjang, Yang dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Kemudian perinciannya dapat dibagi lima periode, yaitu: Periode Nabi Muhammad SAW (571-632 M), periode Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali di Madinah(632-661 M), periode kekuasaan Daulah Umayyah (661-750 M), periode kekuasaan Abbasiyah (750-1250 M) dan periode jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad (1250-sekarang). Namun pada Makalah ini penulis hanya membahas tentang sejarah Dinasti Umayyah dan bagaimana pendidikan islam pada masa Bani Umayyah. 

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah berdirinya Dinasti Bani Umayyah?
2.      Bagaimana Pendidikan pada masa Bani Umayyah I?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui Sejarah berdirinya Dinasti Bani Umayyah.
2.      Untuk mengetahui Bagaimana Pendidikan pada masa Bani Umayyah I.


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Sejarah Berdirinya Dinasti Bani Umayyah
Nama Bani Umayyah berasal dari nama “Umayyah Ibn Abdi Syams Ibnu Abdi Manaf”, yaitu salah seorang pemimpin-pemimpin kabilah Quraisy di zaman Jahiliyah. Dinasti Umayyah didirikan oleh Mu’awiyah bin Aby Sufyan, dan berkuasa sejak tahun 661 sampai tahun 750 Masehi dengan Ibu Kota Damaskus. Ia juga mengganti sistem pemerintahan muslim yang semula bersistem musyawarah (demokrasi) menjadi sistem Monarchy Herdity (Kekuasaan turun-temurun).
Pendirian Bani Umayyah dilakukanya dengan cara menolak Ali menjadi khalifah, berperang melawan Ali dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali yang secara politik menguntungkan Mu’awiyah. Keberuntungan Muawiyah berikutnya adalah keberhasilan pihak Khawarij membunuh khalifah Ali r.a. sehingga jabatan khalifah setelah Ali dipegang oleh putranya yaitu Hasan ibn Ali. Kepemimpinan Hasan Ibn Ali berlangsung selama beberapa bulan, akan tetapi mengalami pergantian kepemimpinan karena tidak didukung pasukan yang kuat, sedangkan pihak Muawiyah semakin kuat.
Akhirnya Muawiyah melakukan perjanjian dengan Hasan ibn Ali, isi perjanjian itu adalah bahwa pergantian pemimpin akan diserahkan kepada umat islam setelah masa kepemimpinan Muawiyah berakhir. Perjanjian ini dibuat pada tahun 661 M (41 H.) dan tahun ini disebut ‘am jamaat, karena perjanjian ini mempersatukan umat islam menjadi satu kepemimpinan politik yaitu kepemimpinan muawiyyah.
Dinasti Umayyah dibedakan menjadi dua: pertama, Dinasti umayyah yang dirintis oleh Muawiyah Bin Abi Sufyan (661-680M) yang berpusat di Damaskus (Syiria). Fase ini berlangsung sekitar satu  abad yang mengubah sistem pemerintahan dari khilafah menjadi monarki (mamlakat). Kedua, Dinasti Umayah di Andalusia, yang awalnya merupakan wilayah taklukan Umayyah yang di pimpin seorang gubernur pada zaman Walid Bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M) yang kemudian menjadi kerajaan.[1]

2.      Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah I
Secara esensial, Pendidikan islam pada masa ini hampir sama dengan pendidikan pada periode Khulafaur rasyidin. Namun pada masa bani umayyah ini pendidikan islam lebih mengalami perkembangan yang cukup signifikan, diantaranya dapat di uraikan pada pembahasan berikut:
1)      Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran
Visi pendidikan di zaman bani Umayyah secara eksplisit tidak dijumpai. Namun dari berbagai petunjuk bisa diketahui bahwa visinya adalah unggul dalam ilmu agama dan umum sejalan dengan kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah Islam
Adapun misinya antara lain sebagai berikut:
a.       Menyelenggarakan pendidikan agama dan umum secara seimbang.
b.      Melakukan penataan kelembagaan dan aspek-aspek pendidikan Islam.
c.       Memberikan pelayanan pendidikan pada seluruh wilayah Islam secara adil dan merata.
d.      Menjadikan pendidikan sebagai penopang utama kemajuan wilayah Islam.
e.       Memberdayakan masyarakat agar dapat memecahkan masalahnya sesuai dengan kemampuanya sendiri.[2]
Adapun tujuannya ialah menghasilkan sumber daya manusia yang unggul secara seimbang dalam ilmu agama dan umum serta mampu menerapkannya bagi kemajuan wilayah Islam. Sedangkan yang menjadi sasarannya adalah seluruh umat atau warga yang terdapat di seluruh wilayah kekuasaan Islam, sebagai dasar bagi dirinya dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Visi, misi, tujuan, dan sasaran pendidikan tersebut di atas, secara eksplisit atau tertulis tentu belum ada. Namun dari segi kebijakannya secara umum serta hasil-hasil yang dicapai oleh dinasti ini mengandung visi, misi, tujuan, dan sasaran tersebut di atas. Sejarah mencatat, bahwa pada masa dinasti Umayyah telah dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a.       Melakukan pembagian kekuasaan ke dalam bentuk provinsi, yaitu Syiria dan Palestina, Kuffah, Irak, Basrah, Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Najd, Yamah, Armenia, Hijaz, Karman dan India, Mesir, Afrika, Yaman, Arab Selatan, serta Andalusia.
b.      Membentuk organisasi keuangan yang terpusat pada Baitul Mal yang diproleh dari pajak tanah, perorangan, dan nonmuslim, serta mencetak mata uang.
c.       Membentuk organisasi ketentaraan yang umumnya terdiri dari orang-orang keturunan Arab.
d.      Membentuk organisasi kehakiman.
e.       Membentuk lembaga sosial dan budaya.
f.       Membentuk bidang seni rupa seperti seni ukur, seni pahat, dan kaligrafi.[3]
Terjadinya berbagai kemajuan tersebut dipastikan karena didukung oleh tersedianya sumber daya manusia yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian teknis, dan pengalaman yang dihasilkan melalui proses pendidikan dalam arti luas. Sejarah mencatat, bahwa disamping melakukan ekspansio teritorial, pemerintahan dinasti Umayyah juga menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. memberikan dorongan yang kuat terhadap kemajuan dunia pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar para ilmuan, para seniman, para ulama dapat mengembangkan bidang keahliannya masing-masing serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.[4]

2)      Kurikulum Pendidikan Islam pada masa Bani Umayyah
Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentrasi. Desentrasi artinya pendidikan tidak hanya terpusat di ibu kota Negara saja tetapi sudah dikembangkan secara otonom di daerah yang telah dikuasai seiring dengan ekspansi teritorial. Pada masa Bani Umayyah, pakar pendidikan Islam menggunakan kata Al-Maddah untuk pengertian kurikulum. Karena pada masa itu kurikulum lebih identik dengan serangkaian mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat tertentu.[5]
Sejalan dengan perjalanan waktu pengertian kurikulum mulai berkembang dan cakupannya lebih luas, yaitu mencakup segala aspek yang mempengaruhi pribadi siswa. Kurikulum dalam pengertian yang modern ini mencakup tujuan, mata pelajaran, proses belajar dan mengajar serta evaluasi. Berikut ini adalah macam-macam kurikulum yang berkembang pada masa bani Umayyah:
a)      Kurikulum Pendidikan Rendah
Terdapat kesukaran ketika ingin membatasi mata pelajaran yang membentuk kurikulum untuk semua tingkat pendidikan yang bermacam-macam. Pertama, karena tidak adanya kurikulum yang terbatas, baik untuk tingkat rendah maupun untuk tingkat penghabisan, kecuali Alquran yang terdapat pada kurikulum. Kedua, kesukaran diantara membedakan fase-fase pendidikan dan lamanya belajar karena tidak ada masa tertentu yang mengikat murid-murid untuk belajar pada setiap lembaga pendidikan. Sebelum berdirinya madrasah, tidak ada tingkatan dalam pendidikan Islam, tetapi tidak hanya satu tingkat yang bermula di kuttab dan berakhir di diskusi halaqah. Tidak ada kurikulum khusus yang diikuti oleh seluruh umat Islam. Dilembaga kuttab biasanya diajarkan membaca dan menulis disamping Alquran. Kadang diajarkan bahasa, nahwu, dan arudh.
b)      Kurikulum Pendidikan Tinggi
Kurikulum pendidikan tinggi (halaqah) bervariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar. Para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu. Mahasiswa bebas untuk mengikuti pelajaran di sebuah halaqah dan berpindah dari sebuah halaqah ke halaqah yang lain, bahkan dari satu kota ke kota lain. Menurut Rahman, pendidikan jenis ini disebut pendidikan orang dewasa karena diberikan kepada orang banyak yang tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan mereka mengenai Alquran dan agama. Kurikulum pendidikan tingkat ini dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu agama (al-ulum al-naqliyah) dan jurusan ilmu pengetahuan (al-ulum al-aqliyah) Adapun beberapa bentuk dari pelajaran dalam kurikulum pada masa Dinasti Bani Umayyah  diantaranya:
a.       Ilmu agama: al-Qur’an, Hadits, dan Fiqih. Sejarah mencatat, bahwa pada masa khalifah Umar ibn Abdul al-Aziz (99-10 H) dilakukan proses pembukuan hadits, sehingga studi hadits mengalami perkembangan yang pesat.
b.      Ilmu sejarah dan Geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
c.       Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, sorof.
d.      Filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umunya berasal dari baha asing, seperti ilmu mantik, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu yang berhubungan dengan ilmu kedokteran.[6]

3)      Metode-Metode Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah
Pendidikan Islam di masa Dinasti Umayyah tampaknya masih didominasi oleh metode bayani, terutama selama abad I H dimana pendidikan bertumpu dan bersumber pada nash-nash agama yang kala itu terdiri atas Alquran, sunnah, ijmak, dan fatwa sahabat. Metode bayani dalam pendidikan Islam kala itu lebih bersifat eksplanatif, yaitu sekedar menjelaskan ajaran-ajaran agama saja.
Secara khusus, metode ceramah dan demonstrasilah yang banyak digunakan dalam institusi-institusi pendidikan yang ada di zaman itu. Baru pada masa-masa akhir pemerintahan Umayah metode burhani mulai berkembang di dunia Islam. Metode Burhani adalah suatu metode yang diperoleh dari indera, percobaan dan hukum - hukum logika.

4)      Lembaga Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah
Lembaga pendidikan Islam di masa ini diklasifikasikan atas dasar muatan kurikulum yang diajarkan. Dalam hal ini, kurikulumnya meliputi pengetahuan agama (Lembaga pendidikan formal)  dan pengetahuan umum (non formal). Adapun lembaga pendidikan Islam yang ada sebelum kebangkitan madrasah pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
a.       Shuffah, adalah suatu tempat yang telah dipakai untuk aktivitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan tempat pemondokan bagi pendatang baru dan mereka tergolong miskin. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghafal Alquran dan hukum Islam secara benar dibawah bimbingan langsung dari nabi. Pada masa ini setidaknya telah ada sembilan shuffah yang tersebar dikota Madinah. Dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar berhitung, kedokteran, astronomi, geneologi, dan ilmu fonetik.
b.      Kuttab/Maktab,adalah Lembaga pendidikan Islam tingkat dasar yang mengajarkan membaca dan menulis kemudian meningkat pada pengajaran Alquran dan pengetahuan agama tingkat dasar.
c.       Halaqah artinya lingkaran. Artinya, proses belajar mengajar di sini dilaksanakan dimana murid-murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini bisa terjadi di masjid atau di rumah-rumah. Kegiatan halaqah ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.
d.      Majlis, yang berarti sesi dimana aktivitas pengajaran atau diskusi berlangsung. Ada beberapa macam majlis seperti; Majlis al-Hadits, majlis ini diselenggarakan oleh ulama/guru yang ahli dalam bidang hadits. Majlis al-Tadris, majlis ini biasanya menunjuk majlis selain dari pada hadist, seperti majlis fiqih, majlis nahwu, atau majlis kalam. Majlis al-Syu’ara, majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair, dan sering dipakai untuk kontes para ahli syair. Majlis al-Adab, majlis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah, dan laporan bersejarah bagi orang-orang yang terkenal. Majlis al-Fatwa dan al-Nazar, majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu masalah dibidang hukum kemudian difatwakan.
e.       Masjid, Semenjak berdirinya pada masa Nabi Muhammad Saw, masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum Muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi.
f.       Khan, berfungsi sebagai asrama untuk murid-murid dari luar kota yang hendak belajar hukum Islam pada suatu masjid, seperti khan yang dibangun oleh Di’lij Ibn Ahmad Ibn Di’lij di Suwaiqat Ghalib dekat makam Suraij. Disamping fungsi itu, khan juga digunakan sebagai sarana untuk belajar privat.
g.      Badi’ah, Secara harfiah badiah artinya dusun Badui di padang sahara yang di dalam terdapat bahasa Arab yang masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Lembaga Pendidikan  ini muncul seiring dengan kebijakan pemerintahan Bani Umayyah untuk melakukan program Arabisasi yang digagas oleh khalifah Abdul Malik Ibn Marwan. Akibat dari Arabisasi ini maka muncullah ilmu qawaid dan cabang ilmu lainnya mempelajari bahasa Arab. Melalui pendidikan di Badiah ini, maka bahasa Arab dapat sampai ke Irak, Syiria, Mesir, Lebanon, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, di samping Saudi Arabia, Yaman, Emirat Arab, dan sekitarnya. Dengan demikian banyak para penguasa yang mengirim anaknya untuk belajar bahasa Arab ke Badiah.[7]
Sedangkan Madrasah-madrasah yang ada pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
a.       Madrasah Mekkah: Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al Qur’an dan mana yang halal dan haram dalam Islam.
b.      Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyhur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
c.       Madrasah Basrah: Ulama sahabat yang termasyhur di Basrah ialah Abu Musa Al-asy’ari dan Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asy’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadist, serta ahli Al Qur’an. Sedangkan Abas bin Malik termasyhur dalam ilmu hadis.
d.      Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswad, Masroq, ‘Ubaidah, Al-Haris bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil.
e.       Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaitu Abdurrahman Al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan Abu-Hanafiah.
f.       Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara Islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula di Mesir ialah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As, yaitu di Fitsat (Mesir lama).

5)      Profil Guru Pada Masa Bani Umayyah
Guru pada masa Bani Umayyah memegang peranan yang penting dalam proses pendidikan anak, mulai dari menentukan perencanaan sampai melaksanakannya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila pada masa ini disebut dengan teacher oriented. Selain itu, guru pada masa ini secara teratur sudah melaksanakan tugas dan memberikan secara sungguh-sungguh dan memperlakukan murid secara adil tanpa ada diskriminasi.
Guru-guru yang mengajar sekolah kanak-kanak (mu’allim al-kuttab) diantaranya: Al-Hajaja, Al-Kumait, Abdil hamid Al-Katib, Atha bin Rabah dan lain-lain. Para guru yang memberikan pelajaran di masjid-masjid antara lain: Abul Aswad Ad-Duali, Hasan Al-Basri, Abu Wadaah, Syuraik Al-Qadhi, Muhamad ibn Al-Hasan, Ahmad ibnu Abi Dawud, dan lain sebagainya.
Ulama-ulama tabi’in ahli tafsir, pada masa bani Umayyah yaitu: Mujahid, ‘Athak bin Abu Rabah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Masruq bin Al-Ajda. Ulama-ulama ahli Fiqh: Ulama-ulama tabi’in Fiqih diantaranya adalah:, Syuriah bin Al-Harits, ‘alqamah bin Qais, Al-Aswad bin Yazid dan lain sebagainya.[8]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dinasti daulah Bani Umayyah berkuasa cukup lama selama kurang lebih 91 tahun lamanya. Kebijakan dan perubahan yang dilakukan oleh para khalifah tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemimpi-pemimpin Islam saat ini. Bani Umayyah dalam pengembangan pola pendidikan Islam memang masih sama dengan periode sebelumnya tetapi sudah ada reformasi yang dilakukan baik dari segi kurikulumnya maupun tata cara yang dilakukan oleh para pendidiknya meskipun hal-hal tersebut belum terlalu formal seperti saat sekarang ini.
Pembangunan sarana prasarana pendidikan baik pendidikan di khutab, ruang sastra dan bahasa, perpustakaan serta rumah sakit untuk praktik bagi calon dokter sudah tersedia pada saat itu. Kemajuan pengetahuan dan pembaharuan sistem pendidikan pada zaman Daulah Bani Umayah sudah terlihat. Karena Pemerintah Bani Umayyah menaruh perhatian yang sangat dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.
B.     Saran
Dengan mengetahui sejarah pendidikan pada masa Bani Umayyah ini diharapkan kita yang notabenenya sebagai mahasiswa ataupun calon pendidik, mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari sejarah pendidikan ini. Sehingga kita bisa mengaplikasikan dan mengembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang kita bina nantinya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Maka dari itu kami meminta kritik dan saran yang membangun dari para pembaca/audiens sekalian untuk perbaikan di masa yang akan datang.






DAFTAR PUSTAKA
Hasan. 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka.
Nata, Abuddin. T.T.T. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Sayyid Al-Wakil, Muhammad. 1989. Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah. Jakarta: Pustaka Al- Kausar.
Supardi, Ahmad. 1985. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Angkasa.
Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pres.
Yudi, “Makalah Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah”, artikel diakses pada tanggal 01 Oktober 2017 dari http://yudimakalahpai.blogspot.co.id/2015/10/makalah-pendidikan-pada-masa-bani.html/







[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pres, 2010), h. 42.
[2] Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Angkasa, 1985), h. 50.
[3] Ibid, h. 63.
[4] Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam....h. 11.
[5] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, T.T), h. 25.
[6] Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah (Jakarta: Pustaka Al- Kausar,1989), h. 67-101.
[7] Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka, 1992), h. 70.         
[8] Yudi, “Makalah Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah”, artikel diakses pada tanggal 01 Oktober 2017 dari http://yudimakalahpai.blogspot.co.id/2015/10/makalah-pendidikan-pada-masa-bani.html/

Komentar